Pemerintahan
Babarit, Ribuan Warga Berebut Tumpeng
- Details
- Published on Tuesday, 02 September 2014 16:18
- Written by Andry
- Hits: 37492
Kuningan Terkini - Menyambut Hari Jadi Kuningan ke 516, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuningan menggelar seni budaya tradisi babarit. Tradisi babarit yang selalu dilaksanakan setiap tahun, nampak didominasi oleh sesaji nasi tumpeng raksasa dan tarian tradisional yang diiringi oleh musik gamelan seperti kecapi, goong dan alat musik lainnya. Para peserta yang ikut dalam seni tradisional babarit ini tampak ikut larut dalam alunan musik yang dibawakan oleh grup seni sunda Sekarwargi Putra dari Desa Jamberama, Kecamatan Selajambe, Kuningan.
Bupati Kuningan Utje Suganda dan suaminya Aang H Suganda, Wakil Bupati Kuningan Acep Purnama serta istrinya dan beberapa pejabat lainnya pun larut dalam tarian tersebut.
“Makna dari tradisi Babarit merupakan kegiatan masyarakat agraris dalam merayakan syukuran terhadap hasil panen yang melimpah,” ujar Kepala Disparbud Kuningan Teddy Suminar mengatakan, Kepala Disparbud Kuningan Teddy Suminar kepada KaTer, Senin (1/9/2014).
Teddy menjabarkan, masyarakat sunda pada saat dulu, dengan hasil panen yang melimpah dan kesejahteraannya meningkat, mereka melakukan syukuran yakni dengan acara babarit seperti ini.
“Pada momentum ini, kami mengundang masyarakat untuk makan bersama dengan membuat tumpeng,” katanya.
Sementara itu, Bupati Kuningan Hj. Utje Ch Hamid Suganda mengatakan, babarit merupakan tradisi dari nenek moyang kita sebagai orang sunda, merayakan syukuran kepada Allah SWT dengan suasana hasil panen. Selain dalam bentuk syukuran juga tercipta gotongroyong, kebersamaan, juga diperlihatkan seni budaya dan makanan khasnya yang dari jaman dulu sudah ada seperti ini.
“Kegiatan ini dalam rangka Hari Jadi Kuningan ke 516 Pemda Kuningan setiap tahun selalu membuat pesta rakyat seperti ini,” ujarnya.
Bupati juga menjelaskan, digelarnya tradisi Babarit di depan area pendopo dinilai karena kantor bupati merupakan gedung negara yang sifatnya bagi masyarakat ini begitu sakral, yang ada aura untuk berwibawa.
“Pemimpin harus dekat dengan masyarakat dan masyarakat juga merasa ada pengakuan dari pemimpin,” akunya.
Usai tarian tradisional selesai, masyarakat yang menonton dan menunggu sejak pagi, langsung menyerbu sesaji tumpeng yang telah tersedia hingga berebutan.(AND)






