Fri17042026

Last updateWIB3_FriPMWIBE_April+0700RAprPMWIB_0PMthWIB1776402730+07:00FriPMWIBE

Olahraga

Caketum KONI Kuningan Harus Bermodal?

KONI Kabupaten Kuningan.

Kuningan Terkini - Paska pengunduran Ketua Umumnya M. RIdho Suganda, gonjang ganjing Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kuningan, telah memantik pertanyaan besar, tidak hanya di kalangan penggiat olahraga. Masyarakat umumpun ikut memantau dan menyimak, penuntasan permasalahan yang selama ini menuai polemik.

Orang hanya membicarakan sosok yang seolah-olah layak menduduki tampuk pimpinan KONI. Tanpa mengurai permasalahan yang akan dihadapi. Persoalan yang selaput gunung itu, tidak akan disanggupi oleh sosok yang beredar, di media. Sehingga, dimungkinkan pelbagai kalangan “emoh” menjadi Ketua Umum KONI Kuningan.

Agit, S.Pd., salah seoarang pengurus cabang olahraga Wushu juga praktisi Wing Chun dan Kungfu angkat bicara dan sangat logis. Menurutnya, nama-nama yang sudah beredar di media massa, belum tentu berminat menjadi Ketua Umum KONI Kuningan. “Masalahnya apa? kalau kita urai atau dalam bahasa kerennya kita bedah persoalannya satu persatu,” ujarnya.

Ketika Pak Ridho mundur kata Agit, bukan berarti menghilangkan persoalan yang ada. Justru menambah permasalahan. Diantaranaya, permasalahan tentang kepengurusan dengan pembentukan PLt tentu mengandung resiko alias biaya yang harus dikeluarkan. Karena harus melaksanakan musyawarah olahraga Kabupaten luar biasa (musorkablub).

“Biaya yang semula tidak direncanakan, sekarang harus ada,” tegasnya.

Diperkirakan kata Agit, anggaran Musorkablub 150 juta, ditambah biaya pembinaan 36 Cabor kurang lebih 720 juta, dan untuk babak kualifikasi sebesar 600 juta. Jadi total dana yang harus dikeluarkan pada rentanf satu bulan, kutang lebih 1,47 miliar. Ini belum menghitung berapa rupiah untuk membayar atlet beprestasi yang kemaren ribut ribut sampai ke Pa Bupati.

“Belum lagi pembayaran operasional KONI sampai desember, seperti monitoring dan evaluasi menjelang babak kualifikasi dan setelahnya. Sebab itu akan terjadi kontrak dengan atlet yang lolos BK dan mendapatkan stimulan. Habis lah totalnya 2 Milyar ” paparnya.

Kata pengurus KONI yang beredar ucapnya, itu merupakan urusan pemerintah. Meletakan permasalahan ini, harus arif dan bijaksana. Sebab kondisi keuangan di hampir semua daerah sampai pusat sedang mengalami ‘mati suri’. “Jadi harus ada seorang superman yang menjadi dewa penolong, bukan sebaliknya,” ucapnya.

Selain itu, masih kata Agit, calon harus memiliki chamstry dengan Bupati. Serahkan saja urusan calon ketua umum itu ke Tim Sukses dan Bupatinya. Tidak usah ikut campur lebih dalam. Sebab mereka sudah mengetahui calon A, B, C-nya. “Saya sendiri pun punya calon dan siap maju. Hanya, kalau tidak direstui bupati tidak akan jadi,” tegasnya.

Intinya tegas Agit, calon si N, T atau H harus vbermodal dengan membawa cek yang siap dicairkan kapan saja oleh PLt KONI dan membantu kapusing Bupati, selesai sudah. “Namun, jika tidak membawa koper, jangan harap mampu menyelesaikan permasalahan KONI, malah akan bikin ribut dan Cabor gagal mengikuti Babak Kualifikasi,” pungkasnya.(gg)

Add comment


Security code
Refresh


Fishing