Olahraga
KONI Kuningan berpotensi Dibekukan KONI Jabar?
- Details
- Published on Tuesday, 03 June 2025 13:17
- Written by Admin
- Hits: 4166
Kuningan Terkini - Dinamika di tubuh Komite Olahrga Nasional Indonesia (KONI) Kuningan terus bergulir dan semakin memanas. Meski terlihat adem ayem, seperti pepatah air beriak tanda tak dalam. Namun, realitas gejolaknya tak bisa diredam. Sehingga, beberapa pengurus mengundurkan diri, termasuk Ketua Umumnya M. RIdho Suganda.
Pengunduran M. RIdho Suganda dari tampuk Ketum KONI, terlihat dari surat yang beredar atas namanya bertanda tangan di atas materai. Hal ini menunjukan bahwa organisasi olahraga yang setiap tahun mendapatkan kucuran hibah dari APBD itu tidak ada dalam baik-baik saja.
Jika tidak disikapi dengan arif bijaksana oleh semua pihak, ancaman potensial semua cabang olahraga (Cabor) di bawah KONI Kuningan terancam gagal mengikuti babak kualifikasi (BK) Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat Tahun 2025 dan Porprov ke XV Tahun 2026 di Bekasi, Depok dan Bogor sebagai tuan rumah.
Mencermati dinamika di tubuh KONI Kuningaan, Ketua Bidang Organisasi Pengcab Wushu. Kuningan, Solehudin, kembali angkat bicara. Paska peristiwa beredarnya surat pengunduran diri Ketum KONI, perlu disikapi secara hati-hati dan bijaksana.
“Jangan sampai menimbulkan persoalan baru ketika diajukan calon pelaksana tugas (PLt) KONI,” katanya, Selasa (03/06/2025).
Menurutnya, KONI jangan asal menunjuk calon Plt. Meski alasan klisenya karena ketiadaan anggaran, namun jika tidak melaksanakan reformasi organisasi, nisacaya persoalannya akan berlarut-larut dan berpotensi KONI Kuningan dibanned atau dibekukan KONI Jabar.
“Ada beberapa indikator adanya reformasi. Selama ini KONI tidak membuat Cabor kecil menjadi besar. Artinya hanya memikirkan Cabor besar yang mentereng dengan medali emas dalam setiap Porprov. Sementara Cabor kecil dibiarkan mati sendiri karena atletnya tidak ada atau tidak dilakukan pembinaan dengan baik,” paparnya.
Selain itu kata Solehudin, KONI hanya mementingkan pembelian atlet yang sudah jadi, hanya memikirkan cara instan meraih prestasi dengan raupan medali. Padahal kalau atlet lokal dibina serius, disekolahkan di Pusat Pendidikan dan Latihan OLahraga Pelajar (PPLP) yang terdapat dipelbagai daerah. Hasilnya dapat membentuk atlet handal dan berprestasi.
“Seoarang PLt KONI harus memiliki kriteria mampu mencari uang tanpa pinjaman ke koperasi. Memiliki jejaring luas baik ke perusahaan milik negara (BUMN) maupun ke pemerintah pusat. Memiliki komitmen untuk membesarkan cabor kecil berprestasi. Tidak memanjakan salah satu Cabor. Jika tetap mempertahankan sistem KONI seperti sekarang, kami menolak,” pungkasnya.(gg)






