Tue21042026

Last updateWIB3_FriPMWIBE_April+0700RAprPMWIB_0PMthWIB1776402730+07:00FriPMWIBE

Kesehatan

Refleksi Hari Kesehatan Nasional 2015

Kuningan Terkini - Setiap tanggal 12 November diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional (HKN). Tema HKN 2015 ini adalah "Generasi Cinta Sehat Siap Membangun Negeri". Seperti peringatan-peringatan lainnya, tujuannya sama yaitu mengajak kita melakukan refleksi bersama terhadap apa yang telah, sedang dan akan kita lakukan ke depannya. Peringatan ini diharapkan jadi momentum titik balik untuk melakukan perbaikan atas segala permasalahan yang terjadi.

Sayangnya, pada kenyataannya biasanya peringatan-peringatan itu diisi dengan kegiatan upacaran bendera dengan sambutan yang sama dari Menteri Kesehatan yang dibacakan pembina upacara. Sementara para peserta upacaranya karena panas tidak ingin mendengar sambutan lama-lama, bahkan kalo bisa tidak ada sambutan pembina upacara segala. Setelah upacara, bubar barisan kembali ke instansinya masing-masing.

Yang menjadi bahan pembicaraan bukan isi sambutan tapi ya macam-macam bergantung komunitasnya. Sepengetahuan saya, beberapa hari sebelum atau sesudah puncak acara, Dinas terkait banyak melakukan acara. Ada gerak jalan, ada senam massal, ada pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis, ada lomba-lomba dan kadang lombanya tak relevan dengan kesehatan atau tema HKN nya seperti lomba karaoke, lomba nyanyi tembang lawas dan lain-lain.

Intinya harus ada seni hiburannya katanya, gak hanya olahraga, acara ilmiah atau bakti sosial. Setelah rangkaian acara selesai, ya sudah semua pegawai kembali menjalankan aktifitas rutinnya masing-masing.

Dokter kembali ke rumah sakit dan memberikan pelayanannya baik di poliklinik, ruang perawatan, di UGD, di ICU, di ruang operasi, di ruang persalinan, di instalasi radiologi dan lain sebagainya. Pun demikian dengan perawat, bidan, laboran, nutrisionis/dietisien, apoteker, administrator kesehatan, tenaga promkes, kesling, asisten apoteker, refraksionis-optisien, dan masih banyak lagi tenaga kesehatan lainnya.

Mereka lupa apakah di daerahnya sudah punya Sistem Kesehatan Daerah atau gak, mereka apatis untuk mendiskusikan patient-based care di rumah sakit, mereka tak lagi bersemangat mendiskusikan penerapan prinsip-prinsip patient safety di tempat kerja. Mereka yang di Puskesmas sebagian besar lupa bahwa tanggung jawab mereka bukan hanya di Upaya Kesehatan Perorangan (kuratif rehabilitatif) namun seharusnya lebih banyak melaksanakan Upaya Kesehatan Masyarakat (promotif preventif).

Para bidan lupa dengan hasil-hasil Audit Maternal Perinatal yang dilaksanakan jika muncul kasus kematian ibu/bayi, perawat sibuk dengan perannya merawat pasien di RS dan mereka banyak yang gak sadar bahwa kini mereka punya UU 38/2014 untuk menuntut hak dan kewajibannya.

Para dokter kerapkali mengeluh terhadap rendahnya insentif dan ketidakadilan lainnya yang diberikan BPJS sebagai penyelenggara JKN padahal kewajiban profesional mereka amat sangat berisiko bagi nyawa pasien. Bahkan isu gratifikasi dari perusahaan obat kini membuat sebagian besar dokter "berang dan marah" karena terkesan ada generalisasi yang gak fair atas opini tersebut dan bahkan seolah secara sistematis tampaknya diarahkan pada upaya kriminalisasi dokter.

Belum lagi mahasiswa calon tenaga kesehatan juga seolah apatis dengan apa yang akan terjadi dengan masa depan mereka. Yang akan terjadi, terjadilah. Yang penting mereka belajar dan secepatnya lulus.

Apalagi mahasiswa kedokteran, kuliahnya lama dan mahal, setelah lulus harus ada kewajiban internship dulu dan digaji 2.5 juta yang dibayarkan 3 bulan sekali dan hari kemarin telah memakan korban dimana seorang dokter internship diduga menderita ensefalitis dan berakhir dengan kematian di pulau terpencil di Indonesia Timur yaitu Kep. Aru yang tidak mendapatkan penanganan yang seharusnya karena akses yang sulit ke kepulauan tersebut. Dia berjuang sendirian mengabdikan ilmunya atas nama kewajiban internship.

Semua dokter di Indonesia hari ini berduka cita atas kasus ini. Para direktur rumah sakit pun saya yakin sedang dipusingkan dengan tuntutan akreditasi Rumah Sakit yang sangat kompleks dan di sisi lain harus menjaga arus kas keuangan tetap seimbang agar rumah sakit tetap bisa berjalan.

Padahal problem keterlambatan pembayaran klaim dari BPJS disadari sepenuhnya pasti berimbas pada kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien. Belum lagi di BPJS nya sendiri yang tahun kemarin mengalami defisit 4 trilyun akibat pengendalian yang lemah.

Problem kemungkinan banyaknya fraud dan adverse selection menjadi hal yang harus mendapat perhatian. Intinya antara peringatan HKN setiap tahun dengan banyaknya masalah kesehatan tak ada korelasinya. Namun betapapun banyaknya masalah, kita tak perlu lelah mencintai Indonesia. Semoga semoga dan semoga secepatnya bisa kita urai masalah itu satu per satu untuk dicarikan jalan keluarnya.

"Walladzina jahadu fîna lanahdiyannahum subulana" bagi mereka yang sungguh-sungguh, niscaya Allah akan menunjukkan jalan keluarnya. Mari kita bersungguh-sungguh mencintai Indonesia dengan berbuat yang terbaik yang kita bisa melakukannya.

 

Penulis : Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan (STIKKU) Asep Sufyan Ramadhy SKed

Add comment


Security code
Refresh


Fishing