Thu23042026

Last updateWIB3_FriPMWIBE_April+0700RAprPMWIB_0PMthWIB1776402730+07:00FriPMWIBE

Kesehatan

Perilaku Seks Remaja Mengkhawatirkan

Ketua STIKKU, Asep Sufyan Ramadhy

Kuningan Terkini - Salah seorang praktisi pendidikan yang saat ini menjabat sebagai Ketua STIKKU Kuningan, Asep Sufyan Ramadhy menilai, perilaku seksual remaja saat ini sudah mulai mengkhawatirkan. Dari sejumlah riset yang dilakukan di salah satu kecamatan di Kuningan, ternyata hampir 60 persen calon pengantin sudah hamil sebelum menikah.

Menurut Ketua STIKKU, Asep Sufyan Ramadhy kepada KaTer disela-sela kegiatan kampusnya di GOR Ewangga Kuningan, Selasa (2/6/2015), perguruan tinggi wajib melakukan Tri Darma yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian. Penelitian tersebut ada yang dilakukan dosen, ada juga yang dilakukan mahasiswa dalam rangka penyelesaian studi akhir baik skripsi maupun tugas-tugas lain.

“Ternyata dari hasil-hasil yang kita kompilasi, yang kita kumpulkan selama 8 tahun sejak STIKKU berdiri, banyak sekali yang berkaitan dengan prilaku seksual remaja. Contoh di satu kecamatan di kuningan, hampir 60 persen calon pengantin sudah hamil sebelum nikah,” katanya.

Hal tersebut lanjut Asep, sudah menunjukkan ada sesuatu yang bergeser dari norma. Itu terbukti di salah satu Puskesmas, karena mereka yang akan menikah harus diperiksa dahulu di Puskesmas.

“Di Puskesmas ada SOP untuk periksa kehamilan, nah dari situ kita tahu. Pada umumnya mereka berusia dibawah 20 tahun, ada juga yang diantara 20-24 tahun. Tapi prinsipnya mereka masih dalam kategori remaja,” sebutnya.

Dalam penelusuran peneliti kata Asep, rata-rata mereka (para remaja pra nikah, red) melakukan hubungan layaknya suami istri, ada yang memang dilakukan di rumah sendiri maupun melakukannya di luar rumah.

“Kemudian yang kontra, research di salah satu lembaga di Jakarta dari 64 persen yang saat ini remaja di kota besar, melakukan hubungan seksual pra nikah, ternyata 80 persen dilakukan di rumah sendiri. Ini tamparan buat pendidikan keluarga,” tegasnya.

Dikatakan, dalam upaya pemberantasan HIV, AIDS IMS harus benar-benar melibatkan keluarga.

“Nah yang saya wacanakan adalah bagaimana pemerintah khususnya, bertanggung jawab dalam menginisiatifi yang kita sebut parent education. Karena, bagaimanapun juga pengasuhan anak ini tidak lepas dari peran orang tua. Kalau orangtuanya gak ngerti kespro, ya bagaimana mau mendidik kespro di rumah, sehingga akhirnya sia anak ini mencari informasi di luar. Ini yang kita wacanakan, jadi bagaimana parent education ini masuk menjadi bagian dari tanggung jawab sekolah,” ungkapnya.(AND)

Add comment


Security code
Refresh


Fishing