Kuningan Terkini - Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) menggunakan jalur zonasi, prestasi, dan afirmasi jenjang SMP dan SMA, dinilai rawan rekayasa dan berpotensi menimbulkan berbagai persoalan. Demikian disampaikan Ketua Forum Masyarakat Sipil Independen (FORMASI), Manap Suharnap kepada Kuningan Terkini, Senin (15/06/2026).
Menurut Manap yang juga pengamat dunia pendidikan, mekanisme SPMB memicu keresahan masyarakat menjelang tahun ajaran baru. Sistem lama yang berpatokan pada EBTANAS Murni/Nilai Ebtanas Murni (NEM) lebih sederhana, objektif, dan mudah dipahami publik.
“Ini kekacauan secara sistem yang bisa memicu persoalan baru di dunia pendidikan. Jangan korbankan sekolah dan para guru menjadi bulan-bulanan netizen di media sosial. SPMB perlu dievaluasi, karena setiap memasuki tahun ajaran baru terjadi kegaduhan,” ujar Manap Suharnap.
Selain itu kata Manap, apabila pengawasan tidak dilakukan secara ketat, dikhawatirkan terjadi manipulasi dalam pelaksanaan jalur zonasi, prestasi, maupun afirmasi. Kondisi ini, dapat menimbulkan persepsi adanya praktik kolusi dan nepotisme yang pada akhirnya mengurangi rasa keadilan bagi peserta didik.
“Kami berharap, pemerintah dan penyelenggara SPMB melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penerimaan murid baru agar lebih transparan. Pemerataan akses pendidikan harus tetap diimbangi dengan mekanisme seleksi yang objektif dan mampu meminimalkan potensi penyimpangan,” pungkasnya.(j’ly