Kuningan Terkini - Untuk memerangi penyalahgunaan narkoba di Kabupaten Kuningan, BNN sebagai lembaga pemerintah non kementrian dengan STIKKes sebagai lembaga akademik menggelar pertemuan untuk membahas kerjasama diruang kerja direktur Yayasan Tenjo laut, Juju Junaedi Selasa (29/9/2015). Hadir dalam pertemuan, direktur Yayasan Tenjo laut, Juju Junaedi, rektor STIKKes dr. Asep Sufyan dan dosen STIKKes Asmadi, Kasi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN, Agus Mulya S.Pd, M.Si didamping penyuluh BNNK Kuningan, Novy Khusnul Khotimah S.I.Kom.
Berbeda dengan kegiatan sebelumnya yang sudah menjadi kegiatan rutin mahasiswa, yaitu berupa penyuluhan, tes urin dan kunjungan studi banding ke mantan penyalahguna di Rumah Dampingan Tenjo Laut. Rektor STIKKes, dr. Asep Sufyan ingin melakukan perjanjian kerjasama untuk membekali kemampuan mahasiswa keperawatan agar terlatih dalam dalam bidang penanganan penyalahgunaan narkoba.
“Mahasiswa keperawatan tidak cukup hanya dibekali ilmu secara teoritis namun juga praktek lapangan. Selain itu, perawat tidak hanya sebatas bisa merawat orang sakit jasmani tapi juga sakit rohani atau jiwa seperti yang dialami pecandu narkoba, katanya.
Direktur Rumah Dampingan Yayasan Tenjo Laut, Juju Junaedi dan Agus Mulya yang mewakili kepala BNN menanggapi dengan antusias atas niat tersebut. Menurut Juju, rehabilitasi penyalahgunaan narkoba masih dipandang sebelah mata oleh lembaga pendidikan kesehatan Indonesia terutama di Propinsi Jawa Barat.
“Berdasarkan hasil dari penelitian BNN, rata-rata 70 persen penghuni Lembaga pemasyarakatan di Indonesia berasal dari kejahatan narkoba. Tentu hal ini sangat memprihatinkan bila tidak segera ditangani, maka kedepannya kapasitas lapas akan melampaui batas karena hanya diisi oleh pengedar dan penyalahguna narkoba," terangnya.
Melalui BNN sambung Juju, pemerintah ingin mengubah paradigma masyarakat penyalahguna narkoba bukan penjahat melainkan orang sakit jiwa. Stigma negatif bahwa penyalahguna adalah orang tak berdaya tanpa keahlian sehingga perlu dibekali keterampilan tertentu, juga tidak sepenuhnya benar.
“Dari semua penyalahguna yang menjalani perawatan pasca rehab, banyak juga diantaranya adalah para pengusaha yang sudah sukses, anak pejabat, kaum terpelajar, selebritis, kalangan profesional, bahkan seorang yang sudah pernah menunaikan ibadah haji ditanah suci. Artinya secara materiil mereka bukan orang yang kekurangan, tapi malah berlimpahan sehingga menghabiskan uangnya secara tidak wajar dengan mencoba-coba narkoba,” paparnya.
Untuk itu lanjut Juju, yang dibutuhkan mantan penyalahguna narkoba seringkali bukan pekerjaan baru, melainkan penguasaan jiwanya melawan kecanduannya sendiri terhadap narkoba yang sudah membuat dirinya ketergantungan berat.
“Karena itulah, adanya pendidikan kesehatan yang khusus menangani gangguan kejiwaan dan penanganan penyalahgunaan narkoba, memberikan peluang kerja yang cukup prospektif. Selain masih jarang, prevalensi penyalahguna narkoba cenderung meningkat sehingga diperlukan tenaga medis untuk menanganinya,” pungkasnya.(nonarizky)