Ekonomi

Pasar Kerajinan Anyaman Bambu Terancam

Kuningan Terkini - Desa Bagawat Kecamatan Selajambe Kabupaten Kuningan selain memiliki keindaham alam, seperti curug ngelay, desa tersebut juga memiliki ciri khas, yakni sebagai desa kerajinan anyaman boboko. Masyarakat Desa Bagawat yang mayoritas sebagai petani ini, bisa membah penghasilannya dengan memproduksi anyaman boboko. Ada dua ukuran tempat nasi yang mereka buat, yaitu tempat nasi berukuran besar atau boboko, serta tempat nasi berukuran kecil atau ceceting.

Salah satu pengrajin anyaman yakni Abah Dona. Ia telah puluhan tahun menekuni profesi pembuat anyaman tempat nasi dari bambu. Meski kesehariannya sebagai petani, namun disaat ada waktu senggang, ia selalu membuat anyaman boboko.

“Bambu digergaji dan dipotong potong menjadi beberapa bagian kecil. Setelah itu, raut bambu yang telah dipotong kecil. Setelah menjadi tipis, baru bambu yang telah di raut tipis bisa dianyam," terang Abah Dona menjelaskan, Sabtu (20/08/2018).

Setelah menganyam bambu yang telah diraut, lanjut abah Dona menjelaskan, sebagai finising, proses soko atau pemberian kaki untuk boboko. Proses ini menggunakan bambu yang agak tebal, karena bagian ini lah yang berfungsi supaya wadah nasi bisa berdiri tegak.

Dalam satu bulan, ia mengaku dapat mengumpulkan 800 kodi boboko atau ceceting, dengan harga Rp 120.000 untuk setiap kodi. Dimana ia mampu meraup onset Rp. 80.000.000 per bulan. Produk tersebut disebarkan ke berbagai pasar di Kabupaten Kuningan, Ciamis bahkan dikirim hingga ke daerah Bogor.

Namun, seiring dengan perkembangan jaman, saat ini banyak warga yang beralih memakai boboko dari bahan plastik maupun ricecoocker sebagai tempat nasi.

“Sejak tahun lalu saya merasa kesulitas untuk menjual boboko atau ceceting ke pasar, mungkin karena sekarang banyak masyarakat yang berlaih menggunakan tempat nasi dari plastik, hingga produksi boboko saat ini mengalami penurunan,” katanya.

Sementara itu Kepala Desa Bagawat, Ertika, menuturkan, kerajinan tangan boboko dan ceceting, telah menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat desa, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Alhamdulilah, kerajianan boboko dan ceceting di desa kami, telah terbukti menjadi tulak malarat untuk masyarakat desa,” pungkasnya. (L.hakim)


Fishing