Penulis : Raden Hamzaiya (Sekretaris Buhun Santana Kesultanan Cirebon)
Dalam sebuah naskah Mertasinga Vol.2 menyatakan, salah satu kehancuran Panembahan Gebang dikarenakan adanya tuduhan jika panembahan losari mengadu ke Sultan Cirebon jika panembahan Gebang akan menjadi wilayah yang merdeka.
Atas kekhawatiran tersebut dalam naskah Mertasinga dijelaskan jika Cirebon menghancurkan panembahan Gebang hingga tidak tersisa sampai saat ini. Faktanya, tidak ada satu kronologis dalam kisah manapun jika Cirebon berpolemik dengan Gebang, Panembahan Gebang merupakan bagian daripada keturunan sunan Gunung Jati yang masih jatuh turunan anak dari Pangeran Pasarean, berikut pula dengan Pangeran Angkawijaya (Panembahan Losari) yang masih salah satu keturunan dari Pangeran Pasarean.
Tidak ada satu riwayat pun adanya perang saudara di kesultanan Cirebon pada masa nya. Kehancuran gebang dalam naskah Carita Purwaka Caruban nagari adalah akibat daripada penyerangan VOC karena pada saat ini Cirebon memusatkan gebang sebagai lumbung makanan prajurit yang akan menyerang Batavia. Hal ini dilakukan karena pada saat itu penyerangan Batavia dilakukan oleh pangeran Kuningan yang tidak menutup kemungkinan segala persiapan dilakukan tidak jauh dari wilayah Kuningan.
Secara geografis gebang dan Kuningan pada saat itu hanya melewati satu bukit kecil saja bernama ajimut yang saat ini terbelah oleh aliran sungai. Tentunya, perjuangan pangeran Kuningan benar benar ada dalam melawan Batavia, lumbung lumbung makanan tersebar tidak jauh dari wilayah kabupaten Kuningan saat ini salah satu nya adalah wilayah gebang.
Dari fakta sejarah ini kita mesti nya sadar, jikalau generasi penerus saat ini tidak boleh terpecah belah karena berbeda pandangan, masyarakat adat tidak boleh melupakan peran para pangeran Kuningan begitu saja dengan perjuangan yang amat besar dalam upaya melakukan ekspansi kekuasaan kesultanan Cirebon pada masanya.
Jangan coba coba mengaburkan sejarah Kuningan dengan berbagai macam narasi sejarah. Darah Kuningan tetap darah seorang pejuang di Medan pertempuran.***