Kuningan (KaTer) - Sebagai organisasi sosial dan keagamaan terbesar di Indonesia, NU terus melakukan terobosan baru dengan menggencarkan berbagai kegiatan dan program untuk mencari solusi terbaik. Salah satunya dengan menggelar Pelatihan Kader HIV/AIDS. Pelatihan yang diikuti oleh IPPNU Kuningan, sebagai wujud kepedulian terhadap masalah HIV/AIDS yang harus diperangi dan berjihad melawan masalah HIV yang hingga kini belum ditemukan obatnya.
Selain Kuningan, ada enam daerah lain yang menjadi peserta pelatihan diantaranya Banjar, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Ciamis dan Garut. Masing-masing daerah diwakili oleh lima orang dari unsur PC NU, IPPNU, IPNU, LDNU, dan LKNU. Acara yang berlangsung selama tiga hari itu, digelar di Hotel Cipaganti Cipanas Garut sebagai salah satu program PB NU melalui Lembaga Kesehatan NU Pusat.
“Program pelatihan sendiri bertujuan untuk membekali pemahaman kader-kader NU tentang pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Karena menurutnya selama ini, tingkat pemahaman orang terhadap penyakit ini masih rendah dan acapkali mendapat stigma buruk,” kata Ketua IPPNU Kuningan, Dewi Ja’rofah kepada KaTer, Minggu (23/2/2014).
Dia mengatakan, kader IPNU-IPPNU bisa menjadi pelopor untuk membantu pencegahan HIV/AIDS di Kuningan. Keikutsertaan dan parsitipasi IPNU-IPPNU untuk menanggulangi penyebarluasan HIV/AIDS sangat dibutuhkan. Kontek jihad tersebut, tutur Dewi, dalam fiqih ada kewajiban untuk melakukan upaya sungguh-sungguh menghadapi masalah yang serius, masalah yang dianggap mengancam. Masalah HIV/AIDS sudah masuk level luar biasa atau darurat.
"Karena situasinya sudah darurat, maka PBNU mengambil sikap HIV/AIDS sudah masuk kategori jihad," katanya.
Ia menegaskan, jihad melawan HIV/AIDS sudah harus dilakukan banyak orang. Penanggulangan HIV/AIDS ini bukan hanya tanggungjawab pemerintah atau Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan Dinas Kesehatan saja, tetapi sudah menjadi tanggungjawab seluruh masyarakat.(AND)