Bandung (KaTer) - Disini, 20 tahun yang lalu ada kolam besar. Segala urusan air, penduduk datang kesini. Setelah jadi pemukiman padat, seke atau mata air dalam 10 tahun terakhir malah ada yang tertutup sampah yang sudah menggunung. Demikian dikatakan Panji (44), Ketua RT 3 RW 3 Kelurahan Sekeloa Timur Kecamatan Coblong Kota Bandung (22/4/2014).
Raut frustrasi Panji dan puluhan warga setempat tergambar jelas. Gunungan sampah di dua lahan milik penduduk setempat seluas 196 meter persegi dan 252 meter persegi, tertutupi sampah setinggi 5 hingga 8 meter. Sejak penduduk punya kamar mandi dan WC sendiri, mereka bingung tuh buang sampahnya kemana.
“Tanah kosong mata air Ci Enoh dan Cigerewong disini yang tak seramai dulu jadi sasaran, jadi tempat sampah raksas,” kata Yatni dan Enah, dua penduduk setempat yang kini bergiat di gerakan Jagaseke.
Gerakan Jagaseke yang dirintis sejak 27 April 2013 oleh sesepuh Jabar, Solihin GP, kini telah berbuah banyak. Salah satu tugasnya revitalisai seke. “Sebanyak 77 seke dari 400 yang seharusnya ada, mulai hidup lagi. Ini salah satu tujuan gerakan ini,” papar Taufan Suranto, pengurus DPKTLS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda) yang akan menggulirkan gerakan ini ke seluruh tatar Jabar dalam waktu dekat ini.
Bertepatan dengan hari Bumi se Dunia para 22 April 2014, gerakan Jagaseke warga Sekeloa Timur membersihkan sampah dan merevilatisasi mata air setempat dibantu LSM CADAS (CIri Apirasi Dari Abdi Sanagara), Koramil setempat, Kecamatan Coblong, BPLH (Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup) Kota Bandung, PDAM Tirtawening, PD Kebersihan Kota Bandung, serta dorongan Wakil Walikota Bandung Oded M Danial.
Menurut Camat Coblong Kota Bandung, Anton Sugiana, yang pertama dilakukan mengangkut ratusan kubik sampah yang menggunung. Selanjutnya area ini akan di tata sebagai Ruang terbuka Hijau.
“Mata airnya dihidupkan lagi, semua demi kepentingan warga”, kata Anton Sugiana yang hari itu tampak girang warganya bergotong-royong membersihkan lingkungannya.
Sekaitan dengan pernyataan Anton Sugiana, Acil Bimbo selaku pegiat lingkungan dan budayawan yang hadir dalam pencanangan ini mengemukakan nilai strategis dari kandungan kearifan lokal akan pentingnya seke bagi kehidupan modern ini.
“Semodern apa pun kita, tetaplah air selalu menjadi tumpuan kita. Khusus bagi warga Jabar demi menatap masa depan yang penuh tantangan dibidang lingkungan hidup, wasiat nenek moyang kita untuk menjaga seke harus menjadi bagian dari kehidupan kita,” kata Acil menjelaskan. (Harri Safiari).