Sosial

LSM CADAS Bantu Korban Erupsi Sinabung

Sejumalh anggota LSM CADAS berfoto bersama seusai menyalurkan bantuan kepada korban erupsi gunung Sinabung.

Bandung (KaTer) - Angan-angan membantu korban erupsi gunung Sinabung (Sumut), akhirnya terlaksana. “Praktis perjalanan darat dan aksi bantuan di lokasi total satu minggu selesai, lalu pulang ke Bandung”, urai Nurhasid, ditemani Lukman dan Unggul setiba kembali di Bandung Minggu (18/3/2014).

Uniknya, menurut Nurhasid setiba di lokasi, Posko Pengungsian KNPI Kabupaten Karo (Sumut) di Jl. Pahlawan Kabanjahe yang berjarak sekitar 15 km dari gunung Sinabung, mereka hanya diminta bantuan sayuran dan susu untuk pengungsi disana.

“Maaf Pak, kami tak butuh uang tunai atau pakaian. Kami hanya butuh sayuran untuk 646 jiwa dari 223 kepala keluarga”, kata Nurhasid mengutip ucapan Dian, Koordinator Pengungsi asal Desa Kawar, Guru Kinayan, dan Kuta Rayat Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo.

Permintaan para pengungsi yang sudah 4 bulan tinggal di pengungsian dari 9 bulan yang direncanakan, sungguh diluar perkiraan. Hampir seharian pihaknya mencari belanjaan aneka sayuran, ikan asin, serta susu untuk balita di kota terdekat. Ia tidak sembarangan membeli aneka sayuran ini, semuanya harus dalam keadaan segar. Termasuk ikan asin pun, tidak boleh yang berkualitas rendah.

“Para ibu sempat mengeluh. Bermingu-minggu mengkonsumsi ikan laut kualitas rendah. Sehingga matanya sering belekan,” ujarnya.

Yang menggenaskan kata Nursaid, ditengah kondisi Gunung Sinabung yang masih mengeluarkan asap tebal dengan ketinggian 100 – 300 meter, disertai guguran lava pijar sejauh 300 – 200 meter ke Selatan – Tenggara, plus gempa beberapa kali gempa lokal kecil, banyak pengungsi yang merayu para pemberi bantuan atau tamu mereka.

“Cukup mengagetkan adanya rayuan ini. Pengungsi dengan berbagai cara memanfaatkan para tamu untuk ikut serta bisa melihat desanya. Padahal, pihak PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) setempat melarang siapa pun berkunjung ke radius 5 km dari sumber bencanam,” paparnya.

Hal umum lainnya di pengungsian sambung Nurhasid, terjadi kejenuhan yang mendalam. Ratusan anak terpaksa bersekolah darurat dengan fasilitas seadanya. Aktivitas orang dewasa dan para orang tua, termasuk kepala keluarga sudah jauh dari kehidupan normal.

“Hikmah dari penyaluran bantuan ini, kita yang hidup di negara yang terkenal dengan kondisi ring of fire harus selalu waspada. Tak mustahil bencana sejenis melanda kita setiap saat. Terdekat seperti di Gunung Kelud sana yang mudah-mudahan dapat kita kunjungi untuk menyalurkan bantuan”, terang Nurhasid di Sekertariat LSM CADAS sepulang dari Gunung Sinabung.(HS)


Fishing