• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata

Rab26062019

Last updateRab, 26 Jun 2019 5pm

Profil

Ipung, Sang Sutradara Menguras Energi

Ipung, Sang Sutradara Menguras Energi

Kuningan Terkini- Sutradara teater lakon 'Dedes" D Ipung Kusmawi, sebenarnya teaterawan serba bisa, pasalnya dia banyak mempelajari seluk beluk ihwal drama, yang melibatkan berbagai elemen pementasan, mulai Pimpinan Produksi, Sutradara, Assisten Sutradara, penata panggung, penata kostum, penata gerak/olah vokal, penata rias, penata lampu, penata musik dan bidang lainnya.

Pemilik nama Dartum Ipung Kusmawi yang kerap di singkat D Ipung Kusmawi ini, tinggal di Desa Kalimanggis Kulon, Kecamatan kalimanggis Kuningan Jabar. Ia berteater sejak kecil di panggung Agustusan desa, karena suka nonton 'masres'(tonil dari Cirebon).

Terjun langsung berteater sejak lulus SMA di tahun 1997, dengan belajar teater dan menulis pada Niki Kosasih (penulis sandiwara radio Saur Sepuh) di Bekasi, tutur suami dari Euis Nurhelis yang kini sudah dikaruniai tiga orang anaj (AfrayosEka Wulan Ratri, Shinta Dwi Zhafira dan Nahdamar Tri Rafaizan) Lalu bergabung dengan beberapa kelompok teater di Jakarta,Bogor dan Tanggerang.

Selain di teater, aktif juga di beberapa garapan sinetron sebagai crew dan pemain yang bernaung di bawah PH Genta Buana, seperti sinetron “Tutur Tinular”, “Misteri Gunung Merapi” dan “Angling Darma”. Hingga akhirnya di tahun 2000 saat di Jakarta, tersiar kabar ada kelompok teater dari Kuningan yang mentas di Tanggerang.

“Akhirnya saya pulang ke Kuningan dan bergabung dengan teater SADO,” kenangnya, Senin (04/03/2019).

Aktif terlibat di teATeR SADO sejak garapan ke-2 dalam lakon “Dialog Rama dan Rahwana”, lanjut ke “Dedes”, “Ada Mayat Kentut”, “Sandiwara Orang-orang Negeri Dangdut”, “Lelaki Tua dan Ibu Sepuh Ratu Rita”, hingga “Barok” di tahun 2017. Selain sebagai aktor, dipercaya sebagai asisten sutradara sejak pementasan lakon “Ada Mayat Kentut”.

Selain di teATeR SADO, turut membidani pula teater di kampus, yaitu teater pecut di tahun 2001. Terlibat main dan menyutradari beberapa garapan sejak lakon “Bom”, “Blor”, “Opera Baguded”, “Oblag-oblag”, hingga “Jeblog”. Tercatat ada delapan lakon yang sudah disutradarai di teater pecut.

“Setiap garapan teater, paling sebentar membutuhkan waktu 3 bulan untuk latihan, terbagi menjadi satu bulan reading, satu bulan blocking dan satu bulan memadukan reading dan blocking serta piranti pementasan lainnya. khusus untuk garapan “Dedes” memakan waktu lima bulan latihan,” terang dia.

Berteater katanya, baginya lebih menjadi bagian dari proses belajar tentang hidup dan kehidupan. Secara materi, tidak ada yang didapatkan secara langsung dari proses ini. Namun dari proses inilah saya mendapatkan sesuatu yang lebih dari materi, yaitu mencoba tangguh dalam kehidupan sebenarnya.

“Bagi saya yang sudah berkeluarga dan berprofesi tetap, totalitas berteater menjadi tantangan tersendiri. Butuh manajemen waktu yang ketat antara jadwal untuk latihan teater dengan jadwal pekerjaan dan keluarga. Praktis, latihan berteater dilakukan saat senggang waktu keduanya, yaitu sore atau malam hari,” terangnya.

Secara fisik sambungnya, tentu sangat menguras energi. Lelah dan letih sudah pasti. Namun semuanya terbayar lunas ketika garapan bisa berjalan sesuai rencana. Ia hadapi simpel saja, dengan selalu menganggap bahwa proses berteater merupakan bagian dari olah raga yang mulai jarang saya lakukan.

“Dengan konsep seperti itu, Alhamdulillah tubuh selalu fit jika latihan teater. Ke depan, saya berharap tidak hanya teater SADO yang aktif berkreatifitas. Semoga akan ada kelompok teater lain yang bermunculan, menghidupkan dunia perteateran di Kuningan,” pungkasnya(H WAWAN YR).-

Add comment


Security code
Refresh