Kuningan Terkini, Bandung - Sepintas ada yang unik dari penampilan Abah Landoeng (90) kali ini. Sosok pensiunan guru di Bandung ini, dikenal sebagai ikon “Jujur itu Hebat” anti korupsi, pegiat sosial-kemasyarakatan, dan pecinta lingkungan. Katanya, “identifikasi” figur tembang “Oemar Bakri” yang terkenal itu, dilantun penyanyi balada Iwan Fals terinspirasi kala Ia menjadi muridnya di SMPN 2 Bandung era 1970-an.
Tak sengaja Kuningan Terkini bertemu dengan Abah Landoeng di Taman Lansia Bandung Jl. Diponegoro – Cisangkuy seminggu usai lebaran 1437 Hijriah (13/7/2016). Tepatnya, kala itu Ia sedang mengamati replika “kontroversi” Dinosaurus T-Rex setinggi 2,5 meter dengan panjang 6 meter, seharga Rp. 175 juta buatan Yogyakarta. Replika ini, tiba-tiba dipindahkan atas perintah Ridwan Kamil, Walikota Bandung dari pemasangannya di Plaza Ujungberung ke Taman Lansia (19/6/2016).
”Ditolak kehadirannya oleh tokoh Ujungberung. Harusnya, di sana dipasang ornamen bertema Sundanologi, bukan binatang purba yang giginya bikin serem,” itu kata Irvan (38), warga Cibeunying yang tahu persis ihwal “kontroversi” ini. “Tadinya sih Kang Emil (sapaan Ridwan Kamil), mau bikin kejutan buat warga Ujungberung, tahunya salah tebak, ternyata …”. Kembali ke sosok Abah Landoeng yang tampak tertegun, sekaligus terheran-heran akan replika ini.“Tahun ini Abah berlebaran hari pertama di Bali, hampir sebulan di sana. Oleh-olehnya, toleransi antar umat beragama di sana sangatlah berkesan,” ucapnya.
Pemberdayaan masyarakat desa pun gencar, demi mengurangi dampak negatip kepariwisataan yang menggerus nilai-nilai kearifan lokal. ”Semoga tingkat kesejahteraan warga desanya meningkat. Imbasnya, tingkat korupsinya tak begitu menonjol. Eh, ini koq ada dinosaurus Taman Lansia, kenapa? Menurut Abah, walaupun agak mengherankan, bisa juga dianggap sebagai hiburan, baguslah …”. Gerangan, Abah Landoeng, sebulan di Bali (6/6 – 7/7/2016), ada apa? Lalu, kawalan anti korupsi di Jawa Barat selama sebulan ini, luput dong?”, goda Kuningan Terkini.
Menurutnya, di Bali dianggapnya sebagai “studi banding”. Kebetulan, salah satu putrinya Dwi Arti tinggal di Ubud, Bali. “Sekalianlah sambil menengok anak dan cucu”. Pengundangnya penggerak social-kemasyarakatan di Bali - Made Suarnatha, Direktur Yayasan Wisnu di Banjar Pengubengan Kauh, Kerobokan, Kuta Utara. Yayasan Wisnu sejak 1993, memberdayakan masyarakat desa-kota. Salah satunya, mengembangkan JED (Jaringan Ekowisata Desa).
Lainnya, bersama aktivis Oi (Orang Indonesia) Denpasar Raya, rintisan Wayan Tama dan Rif Nugraha sejak 2012 dan kini dimotori Midori “Seribu Pohon” - fans penyanyi balada Iwan Fals, melakukan aksi sosial. “Penanaman pohon, pelepasan tukik, gerakan sosial menyantuni seniman setempat, buka bersama dengan kaum muslimin, dan banyak lagi. Intinya, Bhineka Tunggal Ika, dipraktikkan dengan baik. Soal toleransi di Bali ini, patut kita terapkan di Nusantara. Janganlah kita main menang-menangan. Apalagi antara minoritas dan mayoritas, segala …”.
Terakhir, dalam sesi dialog spontan bersama Abah Landoeng di tempat yang tidak biasanya, Kuningan Terkini iseng bertanya – Andai ada kesempatan mengungkap asa di hadapan replika binatang buas dari masa purba ini, yang terlintas di benak Abah apa? Pertanyaan sedikit menggelitik ini diluar dugaan direspon Abah Landoeng dengan mimik cukup serius.
”Kalau memungkinkan, replika ini segera hidup seperti sediakala. Gigitlah orang-orang yang berniat korupsi di negeri ini, apalagi para koruptor, binasakan !”, tutupnya masih dengan rona muka makin serius. Tak urug pengunjung lain yang mendengar jawaban terakhir ini bersetuju. Indikatornya, mereka mengangguk-angguk dan tersenyum sembari menunjukkan dua jempolnya. "Cihuy ...Bah", tuturnya. (Harri Safiari).