Kuningan (KaTer) - Siapa sangka, sekolah setara Sekolah Menengah Atas (SMA) bisa jadi jurnalist, apalagi dari kalangan pelajar perempuan. Adalah Fiona Artha Adikusuma, diusia yang relatif masih belia, siswa Smansaka nampaknya serius untuk menggeluti dan mendalami dunia yang penuh tantangan ini.
Bagi Fiona yang hobby menulis, dunia jurnalistik menjadi sesuatu yang menarik. Karena harus memperhatikan sesuatu yang dinilai benar dan fakta. Menurutnya, yang paling sulit menjadi seorang jurnalis adalah mencari narasumber. Namun dengan tekad yang kuat, gadis berkacamata ini terus berusaha untuk mencari dan menggali, sehingga kendala yang dihadapinya bisa teratasi.
“Alhamdulillah, lama-kelamaan semua bisa berjalan lancar karena sudah terbiasa,” ujar Fio sapaan akrabnya, saat diwawancara KaTer, Rabu (11/12/2013).
Lebih lanjut Fio yang menjabat sebagai Pimpinan Redaksi Sakalist ini, saat ini perempuan harus bisa lebih maju seperti Bupati Kuningan yang baru saja dilantik dari kaum perempuan. Saat ini, masyarakat sudah memberi kesempatan pada kaum perempuan untuk bisa lebih eksis dan berkiprah pada bidang yang dikuasainya.
“Bagi perempuan yang sudah melangkah menjadi pemimpin, harus mempertimbangkan dan siap untuk menghadapi tantangan dan tuntutan serta dapat melaksanakan tanggung jawab sebagai seorang perempuan yang aktif pada bidangnya masing-masing,” tutur siswi kelas XI IPS Smansaka ini menjelaskan.
Menjadi jurnalis lanjut gadis manis kelahiran Kuningan, 28 Agustus 1997 ini, ada banyak dampak positifnya. Misalnya, dapat bertemu orang-orang penting yang ada di sekolah dan memberi kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang. Mulai dari para pejabat daerah hingga orang-orang dari kalangan bawah.
“Bahkan derajat kita disamakan dengan pimpinan suatu instansi atau perusahaan pada saat melakukan peliputan, bahkan mungkin bisa lebih tinggi,” katanya.
Ilmu pengetahuan sambung Fio, bisa menjadi penunjang keinginannya sebagai jurnalist muda. Ia berusaha menggali potensinya lewat membaca buku, browsing artikel jurnalist, bahkan mengikuti pelatihan dunia jurnalistik untuk menggali banyak ilmu dan pengetahuan yang bisa mengembangkan diri.
“Seorang jurnalist mesti menjadi pribadi yang kuat, pemberani, dan tidak gampang putus asa. Seorang jurnalist juga harus benar-benar memiliki sense of journalis, wartawan harus independent. Harus berani membela kebenaran dan menguak ketidakadilan,” terangnya.***