• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Wisata
  • Olahraga
  • Kesehatan

Jum03072020

Last updateKam, 02 Jul 2020 9pm

BJB

Profil

In Memoriam Didi Kempot, Jual Sepeda Untuk Beli Gitar

Alm Didi Kempot.

Kuningan Terkini - Perjalanan karier tidaklah harus dengan harta kekayaan, tetapi juga dengan kenekatan dan keberanian, seperti yang dialami oleh seorang Dionisius Prasetyo atau lebih dikenal dengan nama Didi Kempot. Dia adalah artis campursari yang terlahir 53 tahun silam di Kota Solo.

Didi Kempot adalah anak dari seorang pelawak kawakan Srimulat dari Kota Solo, Ranto Edi Gudel yang lebih dikenal dengan nama Mbah Ranto atau Mbah Gudel. Kakak Didi adalah Mamiek Podang yang juga seorang pelawak senior Srimulat. Karir seorang Dionisius berawal dari mimpinya menjadi seorang seniman terkenal.

Ketika sekolah di SMA Ia meminjam gitar temannya untuk di-gunakannya belajar. Karena ingin punya gitar sendiri, Didi nekat menjual sepeda jengki hadiah dari ayahnya saat dia berulang tahun. Sepeda itu dijual dengan harga Rp.4000,00-, untuk membeli gitar. Modal nekat dan tekad yang membara, Didi 'hijrah' ke Ibukota Jakarta dengan tujuan ingin menjadi seorang seniman terkenal.

Namun, ketika di Jakarta hidupnya tak semudah yang dibayangkan. Akhirnya dia 'ngamen' bersama teman-temannya sesama pengamen jalanan. Dia bisa bertahan hidup di Jakarta dengan cara ngamen untuk memperolah uang. Kemudian sesama pengamen jalanan ia mendirikan grup musik akustik yang diberi nama “Kempot Band” (Kelompok Penyanyi Trotoar). Sementara itu, sang kakak Mamiek Podang ahirnya tahu bahwa adiknya pengamen.

Mamiek awalnya tidak menyangka adiknya adalah seorang pengamen. Meskipun Didi adalah anak orang yang berada, tapi Didi tidak ingin mengekor pada keberhasilan ayah dan kakaknya. Pada saat itu akhirnya bakat penyanyi yang dimiliki Didi diketahui oleh seorang produser bernama Pompi, seorang mantan personel No Koes. Tahun 1994, Didi diajak rekaman album kompilasi bersama Batara Group dari Suriname.

Setelah sukses bersama Batara Group, Didi langsung terkenal dan ia memutuskan untuk bersolo karir. Saat mulai bersolo karir, ia pertama kali melantunkan lagu dangdut. Saat itu ia bersama dengan Dasa Studio untuk mengerjakan album perdananya yang berjudul “Stasiun Balapan” yang rilis tahun 1999. Album tersebut mulai meledak di pasaran dan mendapat respon yang baik. Kontrak baru pun sudah disiapkan oleh Dasa Studio.

Namun, IMC Record sudah lebih dulu menawari Didi untuk rekaman album kedua. Dan album kedua tersebut diberi judul “Plong” yang rilis tahun 2000. Hingga, awal pertengahan tahun 2001 ia merekam album ketiganya yang berjudul “Ketaman Asmoro” yang meledak pula seperti album-album sebelumnya. Kesuksesan Didi tak hanya sampai disitu. Di albumnya yang berjudul “Poko’e Melu” ia berduet dengan Yan Vellia, istrinya.

Sejak merilis album ini ia mulai membentuk grup musiknya sendiri yang diberi nama “Lare Jawi” atau dalam Bahasa Indonesia artinya Anak Jawa. Dimanapun konser dia tak lepas dari orkes campursarinya ini. Sejak saat itu seorang Didi Kempot mulai menyedot perhatian. Dalam popularitasnya yang semakin menanjak, konsernya diliput televisi dan keinginan almarhum Didi Kempot pun jadi kenyataan, menjadi seorang seniman yang terkenal.

Dionisius Prasetyo dulunya adalah seorang penganut agama Kristen. Namun, semenjak ia menikah dengan Yan Vellia yang sebelumnya adalah teman kerjanya justru menjadikan Dionisius seorang muallaf pada tahun 1997. (WAWAN JR/YUS BAHAR)

Add comment


Security code
Refresh