• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Wisata
  • Olahraga
  • Kesehatan

Rab03062020

Last updateRab, 03 Jun 2020 2pm

BJB

Profil

Berbasis Pariwisata Tapi Banyak Kritik Saat Pejabat Berwisata

Ageng Sutrisno Wisanggeni Wicaksono

Kuningan Terkini - “Banyakin piknik biar ga panik” mungkin ada benarnya juga, saking paniknya orang piknik akhirnya ramai - ramai dikritik. Inilah kenyataan yang terjadi di Kota Kuda. Seandainya Saya jadi pimpinan daerah (Sayangnya bukan), tak segan saya intruksikan kepada jajaran kepala dinas atau dewan wakil rakyat untuk benchmarking alias piknik sembari take a deep thinking.

Tak tanggung - tanggung sasaranya bisa barcelona sembari lihat messi bermain bola, atau Italy biar menikmati pizza sekaligus menaranya. Toh sebenarnya, jauh dekat juga sama - sama dikritik, hasilnya tidak dipublish dan anggaranya tak transparan atau rahasia jangan bilang siapa - siapa ya kaya kaum hawa curcol ke setiap kolega dan akhirnya tersebar kemana - mana hehe

Premis yang dibawa sejak zaman Son Goku dan Sun Gokong ada sampai zaman upin - ipin tampil tetap sama yakni study banding, study tour atau study - studyan. Padahal isinya sama halan - halan (baca : belajar hehe). Kasus ini seolah menjadi rahasia umum yang artinya rahasia yang diketahui publik namun hanya sebagian.

Karena toh detil perjalanan, hasil pembelajaran, dan dokumentasi kegiatan tak pernah tersampaikan dengan indah layaknya video weddingan atau tunangan, ini belum ngomongin anggaran. Maka dari itu, Mr President sampai - sampai menyampaikan hal yang sebetulnya penyampaian sentilan kepada para pejabat publik yang sering jadi langganan halan - halan.

"Saya tahu buat perda pasti ada kunker, ada studi banding, saya ngerti. Saya ngerti tapi setop! Dan di kunker ada apanya saya ngerti dan di studi banding ada apanya saya ngerti. Saya orang lapangan, saya ngerti, setop!"

Perintah ini sebenarnya bukan tanpa sebab, hampir semua daerah di Indonesia melakukan ini, bahkan sektor pendidikanpun tak trurut ketinggalan, sejak TK hingga SMA umum terdengar karya wisata, bayangan saya dulu saat SMA, Karya wisata itu kita mengunjungi suatu tempat, mempelajarinya lalu memikirkanya dan mengambil anaknya, eh mengambil maknanya untuk jadi salah satu pendidikan. Tapi kenyataanya semua isinya halan - halan hehe

Kalo seperti ini siapa yang salah ? ga ada yang salah tenang, soalnya kalo salah. Pasti se Indonesia salah semua. Lha ini kan salah berjamaah jadinya wis kebenaran aja lah, Toh ada istilah kebenaran adalah kebohongan yang terjadi berulang - ulang. Percaya atau tidak ya memang lah ini kejadianya.

Lalu saran saya seperti apa ? kedepan ni, biar aman damai sentosa, lahir dan batin kalo mau halan - halan lagi entah apa istilah dalam pelaporan anggaranya mbok ya dibuat profesional dikit lah, anggaranya gandeng swasta yang mau bekerja sama, pake pihak ketiga yang tepat guna, dibuat laporan publik yang nyata, ajak kawan - kawan media, tokoh masyarakat dan kalangan profesional yang beneran ada bukan mengada - ada, dibuat transparan alias sekalian terang - terangan, lalu laporanya akhirnya sajikan dengan secangkir kopi kuningan dan churros cocol nutela Inysa allah agendanya berjalan dengan lancar tanpa aral melintang.

Lha fikir aja sendiri, ga mungkin to berbasis pariwisata tapi ga pernah berwisata, mirip - mirip mau jadi kota pendidikan tapi ga mau keluarin beasiswa buat putra daerah yang mau kuliah Es satu, Es dua atau Es tiga. Bukan gara - gara ga punya anggaran tapi belum ada keberanian aja untuk berinvestasi di dunia yang panjang, karena jelas kalo pendidikan kan long life education bukan long life no action hehe

Penulis : Ageng Sutrisno Wisanggeni Wicaksono, Certify Senior Tour Consultant

Add comment


Security code
Refresh