Kuningan (KaTer) - Sejumlah korlap Gerakan Massa Pejuang Untuk Rakyat (Gempur) akhirnya mendatangi gedung DPRD Kuningan untuk melayangkan surat penolakan terhadap rencana eksplorasi geothermal di kawasan gunung Ciremai, Rabu (2/4/2014). Hal ini menyusul penolakan warga dilereng gunung Ciremai tidak ditanggapi serius oleh seluruh fraksi partai di DPRD Kuningan.
Salah seorang Korlap Gempur Kuningan, Acep Desta menjelaskan, dalam surat tersebut, warga masyarakat lereng Gunung Ciremai mendesak seluruh fraksi partai untuk membuat pernyataan tertulis tentang penolakan proyek geothermal oleh PT Chevron. Karena, Chevron dinilai bisa menyengsarakan warga masyarakat Kuningan.
“Kami meminta selambat-lambatnya hari Jumat (4/4/2014) depan, semua fraksi sudah membuat pernyataan tertulis. Apabila tidak di penuhi, maka GEMPUR akan memboikot partai yang tidak membuat pernyataan tertulis terhadap penolakan proyek geothermal,” tandasnya.
Penolakan itu kata Acep, terkait rencana penambangan panas bumi yang mencaplok luas Wilayah Kerja Penambangan (WKP) hingga mencapai 24.330 ha. Lahan seluas itu, berada di luar kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Ini artinya, areal pemukiman warga yang bakal dikorbankan.
“Penolakan terhadap proyek geothermal ini adalah aspirasi masyarakat Kuningan, dan sudah sepatutnya di dukung oleh semua fraksi,” ucap Desta, warga asal Sagarahiang.
Selama melakukan aksi penolakan geothermal di Kuningan sambung Desta sapaan akrabnya, pihaknya terus melakukan konsolidasi bersama warga masyarakat Lereng Ciremai. Salah satunya menghadirkan ilmuwan geologi seperti Bosman Batubara dan Emil Ola Kleden.
“Untuk ilmuwan Geologi itu tak main-main, karena mereka khusus didatangkan langsung dari lembaga peneliti INSIST Jogjakarta. INSIST merupakan lembaga yang menaungi kajian tentang geologi dan geothermal,” pungkasnya.(AND)