• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Wisata
  • Olahraga
  • Kesehatan

Rab05082020

Last updateRab, 05 Agu 2020 3am

BJB

Pemerintahan

Aliran Kepercayaan Tidak sejalan dengan Akal Sehat Modernisme?

Fahrus Zaman Fadhly

Kuningan Terkini - Modernisasi yang bekerja dengan basis rasionalisme tidak mengakomodasi keyakinan atau kepercayaan (yang irrasional dan berbau mistisisme). Mistisisme sendiri adalah bentuk kegagalan dalam menegakkan tradisi berfikir rasional dan merupakan ekpresi ketidakberdayaan dalam meneruskan hidup diera modern maupun posmodern.

Demikian disampaikan pengajar Filsafat Ilmu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kuningan, Fahrus Zaman Fadhly, menanggapi kebangkitan aliran kepercayaan Sunda Wiwitan Cigugur Kuningan, yang dianggap tak sejalan dengan nilai-nilai modernisme yang mengedepankan rasionalitas dan empirisme sebagai basis dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Saya tidak menyebut secara spesifik suatu aliran kepercayaan tertentu, tetapi secara umum kepercayaan yang berbasis nilai-nilai mistis dan pengagungan masa lalu yg emosional dan sepenuhnya subjektif, kerapkali tidak rasional dan semata berpijak pada halusinasi spiritual," ujarnya.

Pelaku spiritual yang sejatikata Fahrus, semestinya tidak berhalusinasi. Halusinasi adalah ekspresi seseorang yang tidak sejati secara spiritual. Halusinasi itu ketidaksejatian dalam praktik-praktik asketisme. Asketisme atau keshalehan yang sejati itu tauhid atau monoteisme, bukan halusinasi yang kemudian melahirkan kepercayaan yang tidak berbasis pada common sense, pada akal sehat.

“Karena itu, diera posmodern saat ini, jelas dia, aliran kepercayaan tidak mendapat sambutan dari orang-orang terdidik dan kaum cendekiawan yang memegang teguh prinsip-prinsip ilmiah,” katanya.

Halusinasi yang kerap dialami para pengikut aliran kepercayaan sambungnya, adalah sumber kesesatan berfikir. Kesesatan berfikir bukanlah produk budaya yang sehat. "Saya sepakat dengan pandangan Budayawan Kuntowijoyo, bahwa dalam membangun strategi kebudayaan nasional, kita harus menghilangkan keyakinan-keyakinan lokal yang irrasional dan berbau mistik karena keduanya menjadi sumber penghambat kemajuan kebudayaan suatu bangsa," paparnya.

Fahrus menjelaskan, frase pelestarian kebudayaan buday itu jangan difahami secara salah kaprah. Kebudayaan itu, bukanlah kata benda, tapi kata kerja yang sifatnya dinamis. Kebudayaan itu bersifat dinamis dan dialektis. Ada proses dialektika dalam kebudayaan, yakni proses dialektika tesa dan antitesa. Budaya di suatu kurun waktu tertentu berdialektis dengan budaya lainnya.

“Manusia pada setiap masanya menghasilkan produk kebudayaannya sendiri. Tidak ada keharusan mempertahankan suatu kebudayaan yang bertentangan dengan akal sehat. Dulu, kebudayaan manusia mengalami zaman batu, lalu apakah kita mau mempertahankan cara berfikir dan pola budaya zaman batu diera millenial dimana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat seperti saat ini," tegasnya.

Sunda Empires dan Paseban Empires

Spiritualitas yang tidak berpijak pada rasionalitas dan realitas terangnya, buahnya adalah halusinasi. Produk halusinasi tersebut terlihat dari fenomena kemunculan kerajaan-kerajaan seperti Sunda Empires, Keraton Sejagat, Keraton Agung dan lain-lain adalah ekspresi frustasi sosial dan utopia yang anti rasionalitas.

"Fenomena Sunda Empire dan lain-lain itu akibat sebagian dari masyarakat Indonesia yang mengalami frustasi sosial akut. Secara psikososial, orang yang frustasi cenderung berhalusinasi agar realitas sesuai harapan dan keinginannya. Halusinasi adalah aktifitas yang tidak berbasis pada realitas, tapi pada utopia. Nah, kepercayaan yang berbasis halusinasi, adalah produk budaya yang irrasional," tuturnya.

Khusus di Kuningan, dia berharap, tidak muncul fenomena sejenis Sunda Empire dalam bentuknya yang berbeda dengan substansi yang sama. Yang perlu diwaspadai adalah lahirnya Empire-empire bernuansa lokal. Karena Empire-Empire itu cenderung mengajak orang berhalusinasi. Seolah realitas, padahal jauh dari realitas yang sesungguhnya.

“Kita harus merangkul dan mengajak sebagian masyarakat kita untuk kembali berfikir rasional, menghindari kebiasaan halusinasi dan mistisisme," ungkapnya.(j’ly)

Add comment


Security code
Refresh