• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Olahraga
  • Kesehatan
  • Wisata

Sen09122019

Last updateMin, 08 Des 2019 10pm

BJB

Aneka

Mencegah Peredaran Narkoba Dikalangan Remaja

Nunik Yuli Astuti S.Kep, Ns

Oleh : Nunik Yuli Astuti S.Kep, Ns

Mahasiswa Magister Keperawatan STIK Sint Carolus, Jakarta

Pembangunan Nasional bertujuan mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata materil dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang dasar 1945 dalam wadah Negara kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat dan berkedaulatan rakyat dalam suasana peri kehidupan bangsa yang aman, tentram, tertib dan damai.

Untuk mewujudkan tujuan pembangunan tersebut, perlu dilakukan upaya secara terus menerus dibidang keamanan dan ketertiban serta dibidang kesejahteraan rakyat dengan memberikan perhatian khusus terhadap bahaya penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya terhadap generasi muda. Pada tahun 2016, BNN bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kesehatan UI telah melakukan Survei Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada kelompok Pelajar dan Mahasiswa dan di dapatkan angka prevalensi setahun terakhir pakai sebesar 1,9%.

Angka prevalensi ini menurun jika dibandingkan dengan hasil survey tahun 2011 pada kelompok yang sama yaitu 2,9%. Menurut WHO, remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10 – 19 tahun. Masa remaja merupakan masa di mana seorang individu mengalami peralihan dari masa anak-anak. Masa remaja disebut masa yang paling rawan dihadapi individu yang mengalami perkembangan secara fisik maupun psikis dengan beberapa perubahan.

Perubahan tersebut dapat mengakibatkan dampak sebagai berikut : pencarian jati diri, pemberontakan, pendirian yang labil, minat yang berubah-ubah, mudah terpengaruh mode, konflik dengan orang tua dan saudara, dorongan ingin tahu dan mencoba obat – obat terlarang atau narkoba dan pergaulan intens dengan teman sebaya. Salah satu tahapan perkembangan yang harus bisa di kuasai pada usia remaja yaitu perkembangan sosial atau social skills yang merupakan kemampuan untuk menyesuaiakan diri di lingkungan hidup sehari – hari.

Munculnya kenakalan remaja disebabkan karena ketidakmampuan remaja dalam melakukan tugas perkembangan dengan cara yang adaptive sehingga cenderung melakukan sikap maIadative. Sikap maladaptive adalah tindakan yang tidak sesuai pada tahapan perkembangan sosial remaja bisa diperoleh karena pengaruh dari teman sebaya dalam hal penggunaan narkoba. Remaja pada saat menggunakan narkoba yang awalnya karena keinginan mencoba, ikut-ikutan dan desakan teman sehingga remaja tidak memahami secara mendalam dampak negatif yang ditimbulkan, antara lain akan menyebabkan ketergantungan dan merusak kesehatan secara fisiologis dan psikologis penggunanya.

Remaja menggunakan narkoba menimbulkan perasaan enak, nikmat, senang, bahagia, tenang dan berbagai perasaan semu lainnya. Secara umum, ketergantungan narkoba dapat di lihat dari fisik, psikis, dan sosial seseorang. Dampak fisik, psikis dan sosial selalu saling berhubungan erat antara satu dengan lainnya. Ketergantungan fisik akan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa atau yang disebut sakaw bila terjadi putus obat dan dorongan psikologis berupa keinginan sangat kuat untuk mengkonsumsi.

Gejala fisik dan psikologis sangat berkaitan dengan gejala sosial antara lain sikap dan perilaku dorongan untuk membohongi orang tua, mencuri, pemarah, manipulatif, dan perilaku-perilaku menyimpang lainnya. Beberapa efek yang akan di timbulkan karena penyalahgunaan tersebut antara lain mengubah daya persepsi atau mengakibatkan halusinasi, mengurangi aktifitas fungsional tubuh sehingga pemakai merasa tenang, bahkan bisa membuat pemakai tidur dan tak sadarkan diri dan jika kelebihan dosis bisa mengakibatkan kematian.

Oleh karena itu pemerintah membuat regulasi peringatan tentang Narkotika di atur dalam Undang Undang No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Seperti yang tertuang di pasal 7 yaitu “Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi”. Seharusnya peredaran Narkotika yang benar itu dimana??

Pada Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 4 tahun 2018 menjelaskan tentang pengawasan pengelolaan obat, bahan obat, narkotika dan prekursor farmasi di fasilitas kefarmasian. Jadi obat – obat narkotika secara resmi di kelola oleh farmasi untuk pengobatan. Tetapi di era yang serba mudah mengakses teknologi seperti sekarang ini, narkotika semakin mudah di dapat di berbagai kalangan. Pelaku semakin professional dalam melaksanakan aksinya, dengan di lengkapi peralatan yang semakin canggih. Pencegahan penyalahgunaan narkotika bukan saja merupakan tanggung jawab pemerintah tetapi merupakan tanggung jawab masyarakat umum yang diawali dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan masyarakat.

Dari lingkungan keluarga di harapkan para orang tua mempunyai pengetahuan tentang narkoba secara jelas agar bisa memberikan pengetauan kepada anak tentang bahaya narkoba dan orang tua harus mencari tahu jika ada perubahan tingkah laku pada anak , untuk pencegahan di lingkungan sekolah dan masyarakat dimana tempat remaja mengaktualisasikan diri dengan diadakan penyuluhan tentang bahaya narkoba di sekolah ataupun di masyarakat, penerangan melalui berbagai media tentang bahaya narkoba dan pengetahuan tentang bahaya narkoba.

Peran serta keluarga, sekolah dan masyarakat pasti akan sangat membantu pemerintah dalam pencegahan pengedaran Narkotika khusunya di lingkungan remaja. Pada kesempatan ini penulis mengajak bersama mencegah peredaran narkoba di kalangan remaja yang di mulai dari keluarga dengan menjadi pendengar yang baik untuk anak – anak kita, disekolah bekerjasama dengan guru untuk memantau kegiatan anak – anak dan di masyarakat bisa berkolaborasi dengan penyedia layanan kesehatan dari lembaga berbasis masyarakat dan kelompok masyarakat untuk mengatasi masalah populasi rentan dan beresiko. Salam

Add comment


Security code
Refresh