• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Wisata
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Kesehatan

Rab22082018

Last updateSel, 21 Agu 2018 9pm

Profil

Koalisi Tanpa Syarat

DR. H. Agus Suparman, MM

Kuningan Terkini- Bagi sebagian orang,, mendengar sebuah kata ‘Profetik’ mungkin sudah tidak asing lagi. Kata ‘Profetik’ adalah sebuah kata yang mengandung makna memberi atau menerima tanpa pamrih.

Menurut Deepak Chopra, tindakan yang dimotivasi oleh ketulusan, bukan oleh Egosentrisme, akan menghasilkan energi berlimpah yang dapat digunakan untuk menciptakan apa saja yang dikehendaki. Semakin banyak memberi, semakin banyak menerima. Sehingga, kesuburan dan kesejahteraan negeri bertambah.

Hal ini terjadi karena Tubuh dan Mental manusia senantiasa menjalin relasi saling memberi dan menerima dengan Semesta Alam. Sehingga mencipta, mencintai dan menumbuhkan, menjamin keberlangsungan relasi ini, semakin banyak kita memberi, akan semakin terlibat dalam sirkulasi energi Alam Semesta, yang pada gilirannya akan semakin banyak kita peroleh dalam bentuk cinta, materi dan ketentraman.

Hal tersebut diatas menggambarkan sosok Surya Paloh yang tetap konsisten dengan eksistensinya pada kebenaran dengan memelihara semangat berpolitik tanpa mahar. Pendiri sekaligus Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh telah memberikan contoh pada bangsa Indonesia dalam berpolitik yang bersih dengan menyampingkan kepentingan pribadinya maupun kelompoknya.

Masih segar dalam ingatan, ketika Surya Paloh diminta untuk menjadi Cawapres mendampingi Jokowi pada pilpres tahun 2014, Surya Paloh menolaknya dengan halus dan manganjurkan mencari calon lain yang lebih prospektif membantu kemenangan Jokowi. Bahkan lebih dari itu, ia serahkan dukungan Partainya ‘tanpa syarat’ (tanpa menghitung dapat apa dan berapa). Ungkapan dari Seorang Surya Paloh ini, yang kemudian mengilhami lahirnya istilah ‘Koalisi tanpa syarat’.

Apa yang terjadi kemudian setelah pasangan Jokowi dan Jusuf Kala tampil sebagai pemenang dan memimpin pemerintahan baru? Partai Nasdem mendapatkan posisi strategis dan pengaruh politik yang jauh melampaui proporsi perolehan suaranya (7 %). Capaian posisional partai Nasdem setara, bahkan lebih dari PDI Perjuangan sebagai partai pemenang pemilu.

Menjelang Pilpres dan Pileg 2019, Partai Nadem pun menjadi pelopor pertama mengusung Jokowi untuk maju lagi jadi Presiden. Lagi dengan jargon ‘Politik Tanpa Mahar, Koalisi Tanpa Syarat’, budaya ini akan terus digelorakan. Kita yakin, apabila kita berbuat tanpa Pamrih, hasilnya akan mendapatkan sesuatu yang diluar dugaan.

Bangsa ini memerlukan pemimpin yang mengutamakan Moral diatas segalanya, bukan modal materi yang selalu dikumpulkan. Kita ingat betul, beberapa mantan ketua Umum Partai masuk dalam perangkap KPK, seperti mantan Presiden PKS, ust Lutfi yang tersangkut sapi Impor, Mantan Ketua Umum Demokrat, Anas Urbaningrum tersangkut proyek Hambalang, Mantan Ketua Umum PPP, Surya Darma Ali terlibat biaya Haji, Mantan Ketua Umum Golkar, Setya Novanto kasus E-KTP,.

Kedepan, Indonesia membutuhkan pemimpin yang punya moral tinggi, dapat memajukan Indonesia lebih Maju, Berdikari dan Rakyatnya sejahtera. Semua ini tidak akan bisa dilaksanakan dalam waktu singkat, saat ini kita sedang menuju ke arah Perubahan yang nyata.

Hingar bingar perpolitikan semakin dirasakan ditanah air, dimana dalam waktu dekat akan segera diumumkan, siapa dari 5 calon wapres Jokowi yang akan menggemparkan Indonesia. Ke 5 cawapres tersebut diantaranya, Tuan Guru Bajang (Gubenur NTB), Prof Nasruddin (Imam Masjid Istiqlal, mantan wamen Agama), Jendral Purn, Dr.Moeldoko, Susi Pujiastuti (Mentri Kelautan), Prof. Mahfud MD (Mantan Ketua MK) dan Jend (Pol) Tito Karnavian Phd.

Kita tunggu tanggal 10 Agustus 2018, saat Indonesia akan memperingati hari kemerdekaanya.

“Perubahan Total Itu Sesuatu Yang Sulit, Tapi Totalitas Dalam Perubahan Adalah Suatu Keharusan, Jayalah Indonesiaku”

Salam,

DR. H. Agus Suparman, MM

Calon Anggota DPR-RI Dapil X

Add comment


Security code
Refresh