• Home
  • Pemerintahan
  • Parlementaria
  • Politik
  • Hukum
  • Profil
  • Aneka
  • Wisata
  • Sosial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Kesehatan

Min18112018

Last updateSab, 17 Nov 2018 7pm

Politik

Survey Jamparing Research Ancam Koalisi Pilpres?

Pengamat Politik Hukum, Kana

Kuningan Terkini- Pasca Jamparing Research (JR) menyampaikan hasil surveynya kepada sejumlah wartawan, baik cetak, elektronik dan omline di kedai nagkring, tidak sedikit parpol yang ketar-ketir. Ada parpol yang elektabilitasnya mentereng, namun elektabilitas Capres-Cawapresnya turun, begitu pula sebaliknya.

“Bagi saya, hal ini tidak mengejutkan. Ini data faktual-ilmiah, bukan rekaan. Data berdasarkan wawancara dengan berbagai kalangan dengan multistage random sampling. Melihat kondisi ini, saya memperkirakan akan terjadi 'rasionalitas-kompromis' dalam menghadapi pemilu 2019,” kata Pengamat Politik Hukum, Kana, Jum’at (19/10/2018).

Menurutnya, bagi pendukung Capres/Cawapres Jokowi-KMA, angka 27, 40 % merupakan angka yang tidak menggembirakan. Bagi PDIP sebagai pemenang pilkada Kuningan, angka ini jadi catatan. Kemenangan pileg tidak sebanding dengan dukungan pilpres.

“Apakah mesin timses tidak berjalan atau memang strateginya yang tidak menyentuh lapisan masyarakat. Padahal didukung Golkar yang memperoleh 10,20 %, Demokrat 8,80 %, pkb 8,60 %, ppp 5,40 % dn nasdem 2,00 %,” ucap Kana setengah bertanya.

Sebaliknya sambung Kana, kemenangan Prabowo-Sandiaga Uno (PAS) bagi Gerindra, dengan angka 50.8 % dan suara partainya di urutan kedua, 19.00%, ini merupakan capaian yang di luar dugaan. “Gerindra hanya cukup menjaga ritme sosialisasi PAS. Ditambah mitra koalisinya, PKS 14.20%, PAN 5,00% dan Demokrat 8,8% akan menambah daya untuk mensukseskan pilpres 2019,” terangnya.

Leboih jauh Kana mengatakan, melihat angka survey, parpol pendukung kedua pasangan Capres/Cawapres yang perolehannya kecil. Baik Jokowi-KMA dan PAS, akan memilih jalur realistis-kompromis. Bila melihat partainya terancam tidak memiliki perwakilan di parlemen, merekan akan memilih dua cara.

“Cara tersebut yaitu, keluar dari koalisi yang realistis dengan proyeksi besar di pileg 2019, dan memilih berkompromi dengan koalisi yang dianggap akan menang, atau tetap di koalisi dengan kecemasan pileg anjlok. Belum lagi persaingan dengan parpol baru,” paparnya.

Sementar,a bagi pagi parpol baru yang prosentasenya kurang terang Kana, mendukung kedua pasangan secara total, sepertinya bukan pilihan tepat. Energi mereka akan cepat habis. Padahal mereka harus konsentrasi penuh meyakinkan pemilih pemula yang belum menentukan pilihan agar dapat kursi. Cara kampanye digital khas milenial pastinya akan semakin menarik. Atau mencari ceruk besar dari suara mengambang pilkada kemarin.

“Adu strategi parpol harus merujuk survey JR. Masyrakat lebih suka caleg jujur dan bersih 37,60 %, agamis 23,20 %, merakyst 19,20 %, cerdas 9,00% peduli rakyat 7,00. Dan harus diingat, politik uang atau kedermawanan caleg hanya memperoleh 4,00 %. Jadi uang bukan satu alasan mutlak,” pungkasnya.(jly)

Add comment


Security code
Refresh